Sebagai warga minoritas, saya merasakan tekanan batin dan pikiran terlalu berat untuk mencari identitas sebenarnya.

Semua terjadi karena selalu merasa didiskriminasikan dan korban rasisme oleh banyak orang di lingkungan saya.

Saya terlahir sebagai orang Tuli memiliki kebudayaan dan bahasa sendiri dan secara independen yang berbeda dengan orang dengar akan memiliki kebudayaan dan bahasa sendiri juga. Tidak ada yang sama dan semua berbeda.

Namun, saya sejak kecil lebih banyak menghabiskan terapi pendengaran dan berbagai pengobatan lainnya tanpa memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan di usia dini.

Banyak orang memikirkan orang Tuli hanya penyakit sehingga dapat disembuhkan secara medis.

Tidak hanya itu, masih banyak mengatakan bahwa orang Tuli dapat berbicara secara oral dengan lancar sehingga tidak perlu menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi.

Disangka Keturunan Tionghoa

Saya terlahir sebagai pemiliki bermata sipit dan kecil yang berbeda dengan keluarga bermata belo dan besar.

Itulah sebabnya banyak yang mengira saya sebagai orang keturunan Tionghoa atau memiliki darah Tionghoa.

Sakingnya penasarannya, ada seseorang mengecek nama saya. Nama saya Raka, direspon olehnya. “Nama Indonesia ya” Itu membuat saya merasa tidak nyaman. 

Karena hanya gara-gara mata sipit, mereka mencurigai saya hingga memastikan nama saya.

Tidak hanya itu, ada banyak orang menyuruh saya membuka mata yang besar secara berlebihan.

Saya sempat merasa tersinggung dengan hal itu, bahkan marah. Karena saya bangga dengan diri saya, meskipun bermata sipit dan kecil.

Menyikapi Perbedaan

Sungguh berat perasaan saya sebagai orang Tuli dan bermata sipit, hidup di Negeri yang sebagian besar penduduknya tidak menghargai perbedaan.

Bahkan sulit menerima bahwa perbedaan adalah sebuah keindahan yang tak ternilai.

Saya sudah ‘kenyang’ dengan serangan rasisme dan diskriminasi sejak kecil. Bahkan hal itu masih saya rasakan sampai sekarang, baik lingkungan internal maupun lingkungan eksternal.

Saya menganggapnya sebagai ujian hidup, dan bahkan sebagai pengalaman yang akan mendewasakan saya.

Boleh saja orang mengira saya orang Tionghoa, silakan saja kalau orang melihat saya hanya bisa ngomong melalui bahasa isyarat, dan boleh dikira saya sedang sakit karena ketulian yang saya alami. Namun hal itu, tak bisa menyurutkan semangat saya untuk berprestasi.

Saya harus bersiap untuk mengalah atau bersiap untuk memberi pengertian kepada mereka. Terutama ketika menghadapi kaum mayoritas yang memandang sebelah mata terhadap orang-orang minoritas seperti saya.

Hanya beberapa pilihan saja yang saya miliki.

Kedewasaan Dalam Berpolitik

Saya sering berpikir, kenapa mereka bisa begitu mudah memandang sebelah mata. Padahal mereka juga hidup di Indonesia yang notabene sebagai negara multikultural dan memiliki banyak kebudayaan dan bahasa yang berbeda.

Jangankah karena terpengaruh politik atau suatu kepentingan yang tidak bisa saya ketahui? 

Dugaan saya, mungkin hanya karena masalah politik yang mempengaruhi hal tersebut.

Memang politik di sini menurut saya, belum dewasa dan masih ‘rajin’ menebar kebencian demi memperoleh kekuasaan.

Mereka rela menyerang kelompok lain, meskipun sebenarnya sama-sama warga Indonesia. Dengan dalih yang macam-macam hanya karena mereka berasal dari etnis yang berbeda. 

Tujuan mereka tentu saja untuk memenuhi ambisi politik dan jabatan semata. Padahal jika mereka mampu bersikap dewasa dalam berpolitik, hal semacam ini tidak akan terjadi.

Seharusnya, politik itu kan dipakai untuk menyatukan seluruh elemen masyarakat tanpa mengalami diskriminasi dan rasisme, demi mewujudkan kedaulatan Negara.

Sungguh dilema sebagai warga minioritas yang tinggal di lingkungan warga yang mayoritas tidak bisa menerima perbedaan.

Harapan warga minioritas hanyalah respect and say no to racism. Sebuah pesan sederhana, padat, jelas, dan dapat dimengerti oleh masyarakat Indonesia dan juga masyarakat internasional.

Ya, cukup saya berharap: “Respect and say no to racism.

Ditulis Oleh: Li Raka

Editor: Seno Ns

Leave a Reply